Selasa, 09 Juni 2009

Perempuan Seksi dan Sensual

Perempuan Yang Kunikahi Dengan Puisi

Oleh Faisal Syahreza

Aku merasa bersalah bila menatap matamu yang bagai ceruk dalam, setelah hangus dalam ranjangmu semalam. Oh tapi aku tahu itu keinginanmu bukan? Kau bahkan sepertinya bahagia bukan kepalang bila malam-malam--ketika tak ada satu lelaki pelanggan pun yang melirikmu dan mau tidur denganmu--tiba-tiba aku datang dan menyambutmu dengan pelukan sayap lelaki bujang. Aku merasa sesat bila terjebak lagi dengan pertemuanmu, bagai menemukan beruang lapar di hutan. Dan sebaliknya anehnya jadi serba salah, bila aku tak kunjung bertemu denganmu aku malahan merasa dingin dan sepi sekali. Aku merasakan bahwa aku sedang berenang di lautan es tanpa busana. Tanpa ada rumah yang mau menyambutku dengan api unggun dan segelas susu hangat.

Aku selesaikan ciumanku denganmu begitu khdimat ketika bibirku lumat dan bibirmu masih bermain peran. Kau malah sempat menghempaskan tubuhmu lagi di kasur empuk, merubung tubuhku dengan goda. Dan sedikit-sedikit ingin kembali luruh denganku ketika jari lentikmu mengajak bercinta lagi. Tak bisa, kataku padamu. Aku harus pulang, kuliah pagi ini. Aku harus siapkan buku-buku dan makalah yang akan aku persentasikan tepat di depan dosen. Mata kuliah mengajarkanku untuk membagi waktu sebaik mungkin, cinta dan karir begitu bebarengan. Mudah-mudahan lancar, ucapku padanya. Agar ia ngerti dan mau mendoakanku.

Aku tahu dia akan pulang dan merasakan lagi kengerian yang sudah bisa aku tangkap dalam kecemasannya ketika aku mulai mengancingkan kemejaku. Dia selalu merasakan cemas yang dasyat. Padahal dia perempuan yang masih muda dan cantik dengan bibir yang tak bosan-bosan menawarkan candu. Tubuhnya ramping, dan di dadanya ada sepasang apel matang. Dia tak terlalu pintar dari bagaimana cara bercerita tentang dirinya juga hidupnya padaku, namun dengan otak yang sedemikian rupa tergambar dari perilakunya mencermati perjumpaan berkali-kali, dia sepertinya masih cukup pantas sekolah di kampus swasta yang tersebar di penjuru kota.

Aku tahu dia mempunyai kecemasan yang besar, sangat bisa aku rasakan. Namun senantiasa dia menyeruakan, tak ada apa-apa aku, karena baginya diriku tujuannya. Dia selalu seperti itu bila kutanyai ‘ada masalah?’ kurang lebih jawabnya sampai di situ.
Aku tak mau memaksa menanyainya, tak ada gunanya. Dia perempuan paling cantik dan paling bisa memahamiku dalam segala hal di usiaku yang masih muda. Aku masih ingat dengan ice cream yang ia pilihkan untukku. Bukan main mengapa dia bisa mengetahui aku menyukai rasa coklat dengan balutan selai strobery dan kacang. Bagi orang ini sepele, bagiku ini luar biasa. Ini sesuatu yang sempurna, apalagi ketika dia membelikanku baju berwarna putih dengan motif gambar anak anjing. Dia seakan dikirim Tuhan untukku. Dengan segala kekuasaan yang mampu menyihirku. Orang harus bisa menemukan pasangannya yang membuat ia merasa nyaman dan cocok, dalam hal kecil maupun hal besar.

Makanya, aku tak akan melepasnya begitu saja. Dia akan kupelihara bagai sebongkah tanah yang ditanami pepohanan jangkung. Dengan bermacam buah tumbuh bergelantungan dalam rimbun dan keteduhan daunan di hatiku. Setiap kemarau aku ada di sana. Setiap musim hujan juga aku akan di sana, menengokinya, bagai menengoki kebun siap panen di segala musim. ‘Aku cinta kau wahai kebun yang setiap saat siap kupetik’ padanya kubisiki.
***
Aku, begitu selasai kuliah dan mengerjakan tugas Filologiku, segera bergegas menuju taman parterre. Di sana aku biasa merebahkan tubuhku ke rerumputan sambil menatap kemilau cahaya senja di daunan. Aku merasa ingin menulis puisi. Akan kucari tempat biar membantu pikiranku lebih jernih lagi. Aku biasa mengingat-ingat gadis yang dulu sempat aku taksir, dini, kiki, fuji, sri, putri dan banyak lagi. Aku ingat-ingat lagi mereka. Agar membantu mencairkan perasaan yang bisa dituangkan dalam tulisan. Walaupun ujung-ujungnya puisi selalu menjadi isi curahan, ah persetan.

Aku lihat orang-orang sudah banyak yang duduk di taman. Ada anak jurusan bahasa inggris pacaran. Dia bukan temanku, hanya saja aku hapal saja wajah-wajahnya. Mengapa tiba-tiba aku lupa ingin menulis puisi. Di sini memang selalu seperti itu. Tak tentu.
Ada nyamuk-nyamuk yang mengganggu lamunanku. Aku tak sempat membuka buku catatan dan menuliskan sepatah kata pun, keburu temanku datang. Suara knalpotnya bukan main keras, merobek lengangnya sepi taman. Ah, Erik dari dulu sudah begitu, gengster motor selalu punya sikap yang semaunya. Dia mengajakku pulang ke kostanku, aku ikut saja dengannya. Setelah ia menawariku untuk membeli sebotok anggur dan sebungkus rokok. Aku setuju saja. Dan habis perkara sudah.
***
Dia malah tidur sesampainya di kost. Aku malah ingin berdiam sejenak. Aku kangen perempuan yang selalu menghanguskanku diranjangnya itu. Perempuan yang senantiasa menyimpan kenangan tentangnya di lipatan ingatanku.
Aku kemudian menyalakan komputerku dan perasaan ingin menulis puisi yang sempat hilang datang lagi. Ternyata aku ingin menulis puisi untuk seorang perempuan yang baru aku kenal. dia lebih berguna dari yang aku kira. Dari bayang dia yang coba aku raih di batas pikiranku, aku dapati potongan puisi. oh, ini sepatutnya menjadi tugas sang calon penyair. Penyair yang sedang berusaha mencari pengakuan dari masyarakat. Penyair yang kesepian.

Kemudian perlahan aku ingin terbakar oleh tubuhnya. Mungkin aku harus sedikit mengingat beberapa adegan ranjang dengannya. Seperti, bagaimana segalanya kepunyaanku habis ia hisap. Seperti menghisap sari-sari kekuatanku lalu lenyap dan lelah meliputiku, waktu itu.
***
Erik selalu pulang malam setelah merasa jalanan lengang. Ketika lalu lintas jalan mulai jarang kendaraan. Dan seribu kupu-kupu bulan, bermunculan dengan luka dan tangisan yang sangat rahasia, tak bisa didengar. Entah apa yang ia cari di suasana sepi itu. Aku kemudian keluar kost, menuju warung di jalan.
“Rokok.”
“Berapa?”
“Setengah bungkus.”
Aku hendak mencari makan, perut kelaparan. Tapi aku sempatin membeli rokok. Menghangatkan badan. Lagian angin tak enak di mulutku yang terbiasa menghisap batang rokok.

Malam sudah lumayan larut, hampir jam duabelas, aku sempat berpikir tak dapat makanan. Untung kawasan kampus, ada saja beberapa warung buka 24 jam. Meski kutahu, lauk yang dingin dan sisa tadi pagi yang tak laku dibeli orang. Ah lagi-lagi persetan.
Setelah beberapa lauk menemani nasi hangat dari aku santap habis. Aku sudah merasa kenyang dan waktunya kembali untuk pulang, tidur dan tak usah berpikiran tentang tugas Morfologi lagi, biarlah gimana nanti saja, besok pun masih sempat aku kerjakan. Aku menuju jalan. Menikung di gelap malam.
***
Oh, tidak kau, kataku setengah terkejut. Kudapati sepasang matamu lagi-lagi melukis kecemasan yang membadai. Aku tak sanggup memandangnya. Lalu kau tersenyum. Dan.
“Bahagia rasanya.”

Aku langsung memeluk tubuhnya. Tubuhnya yang sudah setengah beku. Mungkin dia sudah lama di sini. Di simpang jalan lengang tanpa lampu benderang dan hanya ada remang bulan. Dia masih memiliki tangan yang hangat dan bau parfum yang aku suka. Aku cintai dia seperti mencintai sebatang rokok satu-satunya. (rokok pada saat itu bukan main istimewanya).

Aku senang juga bisa tanpa sengaja bertemu dia. Aku seakan tak kehabisan cerita dalam obrolan yang keluar dari mulutku ini. Dia pun seakan tak bosan mendengar ocehanku meski terkadang harus menjadi obrolan yang sama sekali tak penting.
Lama juga waktu dibabat habis, dingin tak terasa lagi saat itu. Namun begitu obrolan yang sudah harus terulang lagi untuk kesekian kali, barulah aku tahu. Aku kehabisan cerita, dan dia nampak lelah mendengarkannya.
Aku harus bagaimana?
***
Kini setelah aku ambil keputusan mengajaknya ke kostan, aku sendiri bingung, apa yang bisa dilakukan di dalam ruang kotak penuh kekosongan. Tadi aku lihat sebelum masuk, kamar sebelahku lampunya mati, dan sekarang menyala. Mungkin dia terganggu oleh kedatangku dengan dia. Ah, tak apalah.

Aku segera menyuruhnya untuk tidur di kasurku yang tipis. Maaf kataku, aku tak punya kasur empuk nan hangat.
Dia malah tersenyum dan bersandar di punggungku, kau hangat. Katanya sambil terbenam begitu saja. Bagai seekor burung menemukan sarangnya di atas pohonan yang jauh tinggi dan aman.

Aku mencoba mencegahnya, aku mencegah diriku nekat lagi memberangus diri. Aku tak enak dengan kamar sebelahku bila ia ternyata mengatahui apa yang terjadi di kamarku bila lepas dari control kita berselancar lagi di lautan kasmaran, aku anggap perempuan itu dan aku sedang dilanda kasmaran berat yang tak bisa dihentikan apapun karena aku sendiri tak tahu apa sebabnya.
Perempuan itu seakan tak gelisah, malah membuka pakaiannya dan hanya menyisakan kutangnya saja dan celana dalamnya kemudian kembali meringkusku. Aku tergoda, tapi tetap tegar berusaha lepas cari cengkramannya yang membabi buta.
Dia bukan seorang yang pantang menyerah rupanya, dia malah berbisik padaku, kamu kangenkan sama hangat tubuhku, sambil mencoba meluruhkan lagi diriku.

Aku punya cara jitu, aku nyalakan komputerku. Siapa tahu dia mengerti tentang sikapku itu. Komputerku meraung suara kipas dan mesinnya, maklum komputer lama. Dia sedikit kecewa dan matanya kini terasa jenuh dengan perbuatanku, maafkan aku dalah hatiku padanya.
***
Ini puisi yang kutulis saat ingat kamu, seruku pada perempuan yang kucintai itu bagai menyukai permen manis di lidahku. Aku goyangkan tubuhnya yang kini telanjang. Aku merasa dia nyaman.
Lihat puisiku ini, bujukku, aku akan coba mengirimkannya ke koran-koran.
Dia melorot lagi dalam genggaman tanganku. Aku sedang merasa memberitahukannya bahwa ini semua karenamu aku bisa menulis. Tapi dia malah terus berpindah dari samping kananku, ke samping kiriku begitu seterusnya.
Aku tahu dia merasa tersanjung oleh ulahku. Aku segera memerhatikan lekuk tubuhnya yang penuh dengan cindramata itu. Kenangan yang manis dalam ingatan.

Oh tidak alangkah terkejutnya aku. Kutemukan berbagai luka lebam di antara tubuhnya. Di punggungnya, di dada, di dagu, di kening. Luka pukulan benda tumpul. Hatiku gusar, siapa yang berani menyakiti tubuh mulusnya ini. Aku bersumpah ingin mematikannya dalam cekikanku yang lambat agar tahu rasanya kematian.

Aku ciumi luka-lukanya dan kutemukan kisah baru. Oh aku terjun bebas di antara payudaranya lagi. Hangus sudah segalanya kembali. Menuju malam yang hangat dalam perapian. Dan pada luka-luka di tubuh perempuan itu, aku menemukan diriku, bapakku, ibuku, temanku, pamanku, orang asing, dan orang asing yang tak kukenali sebelumnya.
***
Pagi. Begitu terbangun dia sudah tak ada, hanya ada mesin komputerku dan printerku yang menyala. Ada kertas berserakan di mana-mana. Oh dia – perempuan itu – telah melakukannya sebelum aku bangun. Dia telah mengambil haknya sebagai perempuan yang kupinang malam itu, dengan beberapa puisi sebagai mahar, pengganti kebahagian yang tak kukira akan kurasa. Dan kudapatkan dari dia kenikmatan tiada tara. Aku ingat lagi dia – perempuan itu – berkata dia harus pulang ke rumah pamannya pagi sekali dan harus membawa uang setoran, sebelum matahari mencuri segalanya darinya. Dan kini kulihat matahari sudah muncul lagi dengan sinarnya yang membawa cerita usang dalam hidup yang siap dijalani lagi seperti hari sebelumnya.


00.12 PM / 18 Juni 2008 Bandung

Rabu, 5 November 2008 | 20:59 WIB

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/05/20591912/perempuan.yang.kunikahi.dengan.puisi









Purnama Dan Perempuan Malam

Oleh kawan Roil Muhtadin, Sabtu 13-06-09 18:53

karya Roil Muhtadin
Jakarta, 9 Juni 2009

Purnama malam tetap diam
di redam senin malam
Perempuan malam jalang
kian lelaki hidung belang berkubang
Anak kecil malang hanya ilalang

Purnama malam pun memelas
di balik kabut awan membias
Derai tangisnya tak digubrisnya
Perempuan malam tetap bermalam
di pondok remang
Mata keranjang bersarang

Raga membatu
Jiwa mengerutu
Nasibmu perempuan malam
kehidupan yang suram

Wahai Purnama malam
Cahayamu terang
tenang
tak menyilaukan pandang
Penerang sepi malam
Bersenandung di kala ramai
Perempuan malam memaki
Pada hatinya yang tersakiti

Langkah hendak menepi
Kawanan penyamun menuntun
Lelaki kawakan penjaja badan
Perempuan malam menanti
Fatamorgana dunia kau nikmati
Siksa pedihmu di kemudian hari
dengan langkah yang tertatih
Purmana malam turut bersedih

Sumber: http://mediasastra.com/puisi/247/purnama_dan_perempuan_malam






Rahasia Biruku…

Biru…
aku ingat saat dirimu menatap mataku dengan lembut
dan berkata bahwa cintamu merupakan mahakarya indah penuh makna
yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata
hanya bisa dirasakan dengan hati yang terdalam

biru…
ternyata dirimulah yang bisa membuatku kembali membuka hati
yang tertutup rapat oleh serpihan luka yang lama terpendam
membuatku dapat melupakan semua keraguan jiwa
dan lebih merasakan hangatnya cinta…


biru…

kau mampu memberiku warna yang berbeda di setiap sisi lemahku…
membuatku tertawa, tersenyum, dan lebih semangat menjalani hari-hariku bersamamu
kau juga memberiku rasa tenang, damai, dan juga cinta disampingmu
dengan segala kekuranganku

kau memang spesial di hatiku…
kau juga inspirasi di setiap langkah-langkahku…

biru…
kau sungguh membuatku bersyukur karena memilikimu,
memberi sejuta rasa untuk menghargai cinta dan indahnya kehidupan…

-riksa cinta birue-

Sumber: http://www.puisi.org/2009/04/25/rahasia-biruku%e2%80%a6/











CINTA : sebuah karya dari khalil gibran

Thursday, February 28th, 2008

kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat

ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.

Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembalike alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
yang telah kau buat.

Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata ” aku
lupa ….”
menunggu selamanya ketika kamu berkata ”
tunggu sebentar ”
tetap tinggal ketika kamu berkata ” tinggalkan aku
sendiri ”
mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata ” bolehkah saya masuk ? ”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
sadari

Sumber : http://www.puisi.org/2008/02/28/cinta-sebuah-karya-dari-khalil-gibran/
















ketika gerimis pecah dan angin mengapung di atas atap rumah-rumah,
aku ingat ruangan ini
kenangan biru para pencari cinta, mencekam dan haru

di jendelanya mata-mata terus mengintai,
dan sebilah pedang lesatkan kegaiban,
kau aroma yang tertinggal
menjunjung kain basah dari tikar tidurmu

“Di tempat ini, Arumku, dengarkah jantungmu,
melagukan mimpiku untukmu, mengalir resah dan ragu,”

sungai-sungai bergelombang menari, melawat kepada senja,
dan gebalau di hari mendung bergegas nuju malam,
di sayapku kelelawar menerobos gelap, lampu-lampu redup,
katupkan perkasa mata para peronda

“Tempat kami yang sunyi, rimbun dalam gang-gang kecilnya
mesti saja suara-suara membisik, desah rintih yang tertahan,
jangan bertandang sebelum kau yakin tentang dosa!”

bila pagi tak kunjung pudar dan embun masih menggantung di tempat sunyi ini,
pada rembulan yang pucat terbelah bayangan,
seperti tangis dari kejauhan

tubuh-tubuh lusuh, temaram dingin, di bawah gerimis tak terduga
anak-anak malang berteduh;
merindukan sampan yang akan mengantar pulang ke rumah keluarga

“Di tempat sunyi ini, Arumku.
Kau tuangkan anggur ke dalam cawanku”

dalam risau lambai daun-daun
kugendong tubuhmu ke atas ranjang
suara nyanyian sungai di malam hari
aku hanya ingin nikmati janjimu

“Di ruangan sunyi ini, Arumku.
Dengarkah jantungmu, tangisan mawar yang terlanjur pudar”

Yogyakarta, 2008

Sumber: http://www.kolomkita.com/2008/11/13/di-ruangan-sunyi-ini-arumku/















“Di hadapan Pasukan Cahaya. Dalam kamar yang tertutup rapat, aku merintih dihujat waktu, seakan berjalan tanpa kaki, tak kenal letih selalu perih menindih…”

***

Malam itu Karti sibuk merenungkan nasibnya. Bicara pada kupu-kupu yang kedinginan di malam itu. Siang tadi orang tua Karti bilang kalau mereka akan datang ke rumah Karti. Dia bingung apakah aib ini harus disembunyikan, atau perlukah mereka mengetahuinya?
Sembari melirik kupu-kupu yang hinggap di lampu taman itu, Karti mengeluh dalam hati.

“Hai… kupu-kupu, kenapa kamu masih berada di waktu ini, bukankah ini sudah malam? Apakah kamu tidak takut akan dosa? Dosa dari rintihan waktu yang telah kamu binasakan.”
Satu di antara dua kupu-kupu itu berwarna merah terbang menghampiri Karti. Persis di samping dia duduk. Dan merekapun terlibat dalam percakapan tentang isi hati masing-masing.

“Apakah salah kalau aku keluar malam?” suara kupu-kupu itu balik bertanya kepada Karti.
“Tidak ada yang salah dengan waktu,” dengan suara pelan dan pasrah, Kartipun melanjutkan perkataanya, “memang tidak seharusnya, tidak penting membicarakan waktu, biarkan waktu berlalu sesukanya, hanya akan menyisakan penyesalan kalau kita merajuk kepada waktu.”

Sambil berlalu dari tempat hinggapnya kupu-kupu yang kedua berwarna putih, terbang menghampiri Karti.

“Kamu menyindirku?” ucapan itu terlontar begitu saja dari kupu-kupu putih tanpa disangka Karti sebelumnya.

“Tidak, aku tidak ada maksud untuk menyindir siapapun,” jawab Karti.
“Kamu bohong!” balas kupu-kupu putih membantahnya, dan kupu-kupu putih itu melanjutkan perkataanya dengan rasa malu yang menggeliat dihati, “sebenarnya aku sadar memang tidak seharusnya aku berkeliaran di malam hari, dengan tampilan yang akan menarik mata penghuni malam.”
Seakan mementahkan perkataan kupu-kupu putih! Kupu-kupu merah balas menimpalinya, “Akh… sudahlah, sadar atau tidah sadar, dosa ataupun tidak, yang penting hasilnya sekarang sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup dan gaya hidupmu. Coba pikir! Seandainya kamu keluar di siang hari, apa yang dapat kamu lakukan? Terlalu banyak pekerja di siang hari, yang menghiasi bunga-bunga di taman ini, sedangkan bunganya sudah semakin sedikit dan semakin suka memilah-milah kupu-kupu mana yang boleh menghinggapinya. Ditambah lagi dengan peraturan yang akan menancapkan bunga larangan di taman ini.”

***

Malam semakin larut!
Sambil mengencangkan ikat pinggangnya, seorang laki-laki tua telah menutup pintu kamar dari luar. Sementara di dalam kamar Karti tengah sibuk membersihkan tempat tidurnya yang berantakan. Diambilnya lembaran-lembaran rupiah yang ditinggalkan laki-laki tadi dan beranjak lagi keluar menuju taman.
Menjelang subuh, sudah belasan kali pintu kamar itu dibuka dan ditutup.

***

Azanpun berkumandang, sekumpulan malaikat turun dari langit, membawa buku bertemakan Diary Subuh. Di suatu subuh yang sakral, beberapa ekor kupu-kupu telah lelap dalam tidurnya. Kecuali kupu-kupu putih tadi. Dia menangis, dia ketakutan mendengar panggilan itu. Pangilan azan itu terdengar sangat nyaring ditelinganya, dia bisa memaknai panggilan itu. Ingin sekali dia membalas panggilan itu tapi suaranya tertahan oleh isak tangis yang begitu pilu. Tak urung niatnya untuk menghampiri panggilan itu, tapi kakinya terbelenggu, tangannya terbalut dua sayap bersulamkan emas.
Dalam isak tangis yang tak terbendung, kupu-kupu putih itu berucap lirih, “Di hadapan Pasukan Cahaya. Dalam kamar yang tertutup rapat, Aku merintih dihujat waktu, seakan berjalan tanpa kaki, Tak kenal letih selalu perih menindih. Adakah yang mau mempercayakan kakinya untukku? Membiarkan aku berjalan menemui pangilan itu. Adakah yang mau mempercayakan tangannya untukku? Membiarkan aku membasuh tubuh yang kotor ini.”

Sumber: http://www.kolomkita.com/2008/03/18/kupu-kupu-pilihan/











Aku Seorang Pelacur

Aku seorang pelacur

Menyembah nista dalam tiap tirai umur

Aku seorang pelacur

Telah kulelang kehormatan bertahun-tahun silam

Bermalam di pasar perempuan

Merendahkan diri

Menyucikan dosa

Aku seorang pelacur

Pemberi nikmat berbalik laknat

Aku memang seorang pelacur

Ujung rambut ke mata kaki

Tak ada ingkar meski dalam hati

Tapi,

Aku seorang Ibu

Meski tak tahu siapa ayahmu

Meski najis dalam sejarahmu

Aku seorang Ibu

Sesekali kusingkirkan kerikil kecil di jalanmu

Menenun harapan yang terurai

Ingin memandang surga dalam mutiara kelopakmu

Aku seorang Ibu

Yang berdoa dalam senyap rindu

Yang terlunta demi kebesaranmu

Yang tak berharap kau tahu

Bahwa meski aku seorang pelacur,

Aku tetap seorang Ibu

by : Dani W.

Sumber: http://www.sukainternet.com/index.php?pilih=puisi&id=1147698119&page=66










Eksotisme Perawan

Tuan suka kan bibir hamba ...
merekah manis muda lembut lepas tertawa
tuan jangan terkesima

Selendang ini hamba pintal tuan ...
kala malam bermimpi birahi
gelisah hendak melepas sepi
risaukan hamba perawan hati

Tidakkah tuan lihat ...
mata hamba gelap kelam arang dengan tepian biru danau-danau
O ... alangkah eloknya kenaifan ...

eksotisme angkuhnya kemudaan
jiwa hamba nyalang kembara rindukan tautan percintaan
dengan Tuan ...

Senin, 2008 Maret 24

Sumber: http://mantrapuisikoe.blogspot.com/2008/03/eksotisme-perawan.html











Aku Hanyalah Biduk

aku hanyalah biduk yang tak mampu arungi bentang samudra
selain tubuhku mulai lapuk
daya layarku tak terkembang
yang akhirnya teronggok dibibir pantai
dengan pasir didih yang menyakitkan

aku hanyalah biduk tua...
senyum sapa gelombang pasang yang dulu membentangkan niatku
menolehpun tak mungkin lagi
mati bersama angin darat yang buyarkan rasa

sungguh aku tak tahu
dikemanakan laraku kusembunyikan?

aku memang hanyalah biduk yang busuk
segala lumut kehidupan telah menggerogoti penampilan
masihkah ada waktuku tuk merapikan?

kuharap aku bisa arungi samudra walau sejenak
setelah itu tenggelam kedasar lautan keabadian

...............

Sumber: http://www.kemudian.com/poncowae/puisi/aku_hanyalah_biduk_yang_sudah_lapuk/aku_hanyalah_biduk











whandie.

SAJAK SAMSUL BACHRI

Kau masih dalam pelukanku malam itu
Setelah puas kusetubuhi engkau dengan nafsu

Ku balut mukamu yang penuh warna itu
dengan sejuta kecupan dan keinginan untuk bercinta lagi

Aku tidak mencintaimu tidak pula ingin menikah denganmu
Karena aku hanya ingin mencicipi tubuhmu dengan harga murah

"Kau pelacur..." itu yang terngiang di benakku
Pantaskah kau menjadi istriku

Walau sering aku bermalam dikamarmu ini

Sumber: http://toppuisi.blogspot.com/2008/10/akukah-pelacur-atau-dia.html














Pelacur Tua Ibukota

Pelacur tua ibukota, berjalan menyusuri lorong dibawah temaram lampu jalan, menjajakan tubuh ringkihnya yang termakan penyakit dan usia. Pelacur tua ibukota tak menyesali hidupnya, melayani hasrat tengik muda dan memuaskan gairah bandot tua demi sesuap nasi hari ini. Pelacur tua ibukota menyendiri di kamar sempit dan pengab, menunggu tamu terakhirnya. Bau parfum murahan dan gincu tebal menemani penampilannya. Sang tamu datang tanpa uang, pelacur tua ibukota meradang yang terbayang durjana kelakuan, senyum kecut menghias bibir. Pelacur tua memeluk tamu mautnya, menghujamkan belati menembus dada, merintih..meregang..dan tubuhnya tumbang…

Sumber: http://independen69.wordpress.com/2007/12/08/pelacur-tua-ibukota/











Untukmu “Wedodariku…”

(Puisi ini kudedikasikan padamu atas nama cintaku)

Rembulan datang menyapa
Menerangi keresahan hati
Jemari lembutnya menyeka bulir keringatku

Aku payah
Aku lelah
Aku resah
Aku menyerah

Tapi tidak, tangan lembut sang rembulan membelaiku
Seakan berkata…
Larilah! kejar aku
Gapai kasihku
Sudut bibirnya pun berbisik…
Tetapkan langkahmu
Terus, terus gapai aku!

Aku menangis
Aku tak berdaya
Aku terus mengutuk jiwa kelaki-lakianku…
Yang begitu goyah
rentan
dan gontai
….
Aku tidak mau bangkit
Aku mau berhenti disini saja dan tidur
Biarlah sejarah mencatatku sebagai orang-orang yang kalah

Rembulan tersenyum duka
“Mengapa kau biarkan aku didekap oleh tangan-tangan kasar sang waktu?”
“Mengapa kesuciankuku harus disepadankan oleh kelemahanmu?”
“Mengapa kesucian penantianku harus kau balas dengan kekalahanmu”

Hujaman lirih rembulan membuatku malu
Dengan sisa-sisa kekuatan terakhir, kucoba dongakan kepalaku
Kupulihkan semua harga diriku

Kubuka mataku
Kucoba merangkak
Coba berdiri tegak
Tatap mataku bertemu senyum rembulan
Aku harus menggapainya kembali
Harus!

M√ľnchen, 31 Januar 2001
Dari Kesunyian Musim Salju di Tepian Lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli

Sumber: http://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/31/untukmu-wedodoriku/






~ Baju Itu ~

Di sudut itu aku berhenti
kulacurkan diri pada dunia

aku telanjang tanpa busana
dalam ramai aku sepi

akan kupakai baju berbahan sutra
dalam panas dunia

sejuk itu aku yang punya
karena aku berbaju sutra


~ naz ~

Cipoetat, 05.10.07

Sumber: http://uk.blog.360.yahoo.com/blog-7CzSxjk0aKf_c3dt0owz?p=22






Setetes-Setetes Senyum Sang Dara

(kepada dara berduri)

Perempuan itu menebar sekelumit-sekelumit senyum dari sela-sela jendela berterali besi berbingkai kayu berkaca membayang pada jiwa-jiwa sepi lalu lalang menggapai harap pada sudut bibir tak bergincu ungu segar -apel merah matang- gairah golak tangan terkulai sadar tak mampu membelah kaca bisu berbayang tirai ancaman sekali lagi setetes-setetes senyum tersungging menelanjangi luka dara luka jaka cinta apapun namanya membias diri eksis di kancah dunia serigala lapar berebut daging saudara liar dimana kemanusiaan dimana kebijaksanaan dimana mana di sana mana
setetesnya itu
akankah besok
kujanji akan
sambangi kau

Bulaksumur April 1991

Sumber: http://www.geocities.com/z_iwan/karya_puisi_19911993.html











Sajak Mashuri

Bawuk

jika kau menjelma perahu
dan rambutmu dengan ronce melati adalah buih
bahasa apa yang harus kulisankan
dengan lidah pejantanku

hanya tulisan di batu
serupa tugu, dengan segala kenangan, ingatan
dan rahsia mengekal
memberiku pilihan

lalu ombak-ombak itu, dengan gelombang pasang
laksana sejuta serdadu
menghambur kaki langit
dan sebuah senja memesan kopi pahitnya
hingga malam merengkuhnya di pembaringan
dengan rasa sakit

cahya
hanya cahya yang berkilat dari pundakmu
yang menuntunku
pada tiga tiang layar
dan kemudi di buritan
mungkin waktu dengan mata pedangnya
juga harus undur
mempersilahkan kengangaan lewat
lalu lumpur-lumpur, dengan pasir beracunnya
memberi kutukan
seperti kutuk pada kebebasan
amsal pengkhianatan tapi benarkah kuingin terpatri
di bibir bawahmu, di antara belukar
dan rimba
dengan kijang-kijang liar dan trengginas
atau hanya kesepian
yang melecutmu tuk menarikku pada permainan
tapi gemas pinggulmu telah berkirim khabar padaku
bahwa segala yang bulat
tiada lain adalah tuhan, mawar dan remah roti di musim
paceklik
lalu aku berkendara angin
menyambarmu
dan melumatmu
dalam wujud tak berwujud
dalam muksa tak muksa
dan segala indera
hanya berbagi dengan rintih, nyeri
kengerian, selalu memanggil datang
untuk mengulang
dan mengulang
ritual, upacara
atau metamorfosa kupu-kupu dan bunga

mungkin di atas ngilu itu, dewa-dewa
menitiskan gamisnya
lalu tubuhmu yang polos
mulai berpakaian
mengenakan sarung tangan
dan bibirmu
dan anusmu
dan segala lubang yang menganga
di tubuhmu
mencipta pagar
agar segala rahsia, tetap mekar
dan tumbuh menjelma ular

sungguh aku hanya mengintipnya dari renggang jemariku
tapi nafasmu dengan ruap embun
laksana pantun
sebuah derap yang dapat diraba
tapi setelah jejak-jejak itu kabur
kau adalah lesit
yang menghisap darah
untuk darah
lintah dengan mulut-mulut api
yang membikin bara dengan jerami, rerumput
hitam, semacam sahwat
dan mengundang burung-burung
untuk hinggap dan mematuknya dengan lahap,
liar dan mencengkeram

sayang yang kuingat dari dirimu
hanya sebongkah kata
sebaris ucap, seperti sapa
dan layar yang tergerai di pahamu
mulai menyingkap
lalu perahu itu melaju
dengan haluan berbuih-buih
dan suar pun memejamkan mata
untuk menyaksikan adegan-adegan kejam
pentas yang tak pernah tuntas
untuk selalu mencipta merih
merih tak terandai
berkejaran di lorong malam

hingga sungai dengan ikan-ikannya
menyesak pantai
hingga jeram dengan arus tajamnya
menjelma landai

dan siapapun adam yang bermain sampan
akan terkutuk sebagai pengkhianat
lalu mengubah arah jarum jam
membelah kepala, mengunyah jantung
dan melarikan segala yang bernama
pada sang tiada

hanya maut
maut yang berpagut dengan gelinjang
dalam tarian
ketika sahwat menjelma khalwat
dan bibir mendengus: baiat! baiat!
maka tubuh hitam akan semakin hitam
membaca ketaksadaran dengan luka
luka tubuh
yang dirajam batu
dan seribu duri tumbuh dari tubuh
selama berwindu-windu

mungkin hanya di pantaimu
aku melihat waktu merintih
mati
dan kebebasan itu telah mengutukku
untuk menyemaikan lisong
ke mulutmu
dengan asap yang membubung
lenyap, suwung

Surabaya, 2002

Sumber: http://mashurii.blogspot.com/search?updated-max=2008-10-23T00%3A43%3A00-07%3A00&max-results=7





















Aku sudah bukan perawan sebelum engkau memperkosaku. Dunia yang tak beradab telah mengoyak selaput daraku dalam ranjang jaman yang semakin membusuk. Di mana televisi hanya menyiarkan berita kriminalitas dan film biru bukan lagi hal yang tabu. Seorang artis yang tak begitu dikenal terlibat affair dengan seorang bapak anggota dewan yang terhormat, hingga skandal sex mereka bermunculan di ponsel-ponsel, hingga anak kecil pun bisa menikmatinya.

Padahal dulu, aku benci dengan cerita-cerita seperti itu. Aku lebih menyukai kisah Gibran dan Salma, atau Khais dan Laila, atau Romeo danJuliet? Kisah cinta yang begitu dramatis dan menghujam hati siapapun yang mendengarnya. Cinta tanpa pretensi lain selain kesucian cinta itu sendiri.

Jijik bila mengenangnya, namun akhirnya menjadi biasa saja. Hingga aku betul-betul dengan keikhlasan membiarkanmu menikmati tubuhku, dan orgasme ini sungguh kekal dan nyata. Kita jadi sering melakukannya secara diam-diam. Di bawah purnama yang telanjang, di atas tumpukan sampah yang tak karuan warna dan baunya, bahkan di antara kegelisahan orang pada hidup yang makin cemarut. Aku dan engkau menikmatinya,
menikmati dengan seluruh cinta Adam pada Hawa.
“Suatu saat kita pasti menikah,” begitu bisikmu tiap kali mencumbuku.

Waktu yang terus saja melaju dan kita masih saja setia. Tak seorang pun tahu kisah ini. Kita menatanya begitu rapi dan hati-hati. Sedikit pun tak ada curiga. Di mata mereka, aku adalah gadis yang begitu manis dan tak mungin melakukan dosa, tak ada cela, perfect.

Hari itu kita bertemu, masih sembunyi-sembunyi dan tak seorang pun tahu. Warung kopi dan teh poci yang kelewat manisnya. Aku memandangmu, memandang guratan-guratan kasar di permukaan kulitmu yang kecoklatan. Engkau seorang pekerja keras, bahkan
kutemukan itu pada tiap hela nafasmu, begitu diburu.

“Aku hendak kabarkan sesuatu.”

Seseorang memesan kopi dan duduk pada seberang kursi, engkau masih sehening pagi.
“Adikku Intan akan menikah dengan kekasih yang sudah lama diimpikannnya, namun sesuai tradisi, mereka menungguku.”
Engkau menghela nafas dan membuang pandang ke jalanan, begitu ramai debu dan asap menyatu.

“Apa mungkin aku menikahimu ?”

Tanya itu begitu gamang dan aku menemukanmu begitu bimbang. Sadar, ini tak mudah untukmu, begitu rumitnya kisah ini, namun tak mungkin begitu saja berlalu
meninggalkannya atau memaksakan kebersamaan.
“Sebab, meminangmu tak cukup dengan keberanian saja.”
Begitu deru angin berlalu dan sepasang matamu menjadi kuyu.

“Tak kumiliki sesuatu yang berarti untuk meminangmu. Lantas aku harus apa dan bagaimana ?”
Tanya dengan nada sedikit memaksa itu akhirnya hanya menggantung, sementara jalanan semakin sesak, serupa yang menyesak dalam dadaku juga dadamu.

Pertemuan itu tak menuntaskan tanya dan kemelut yang memenuhi syaraf otakku yang semakin kusut. Aku tak menemukan sinar dimana aku bisa dengan tegak melangkah. Aku justru menimpakan begitu banyak kesulitan pada orang lain. Pada adikku Intan yang tak berdosa, pada Ibu yang polos dan tak mengerti apa-apa, padamu juga, Kekasihku. Bukankah ini juga karena aku? Andai aku tak kembali dan menyulut cintamu, kau tak
mungkin begitu utuh menyerahkan jiwamu. Sedangkan Bapak? Bapak sebenarnya juga tidak salah. Hanya saja, terkadang darah ksatrianya tak mampu menyentuh dada Sudra yang tulus dengan kepapaannya, sekalipun tangan mereka mengusap mesra telapak
kakinya. Tetap akan ada jarak, jarak yang tidak akan pernah dapat di seberangi, serupa ngarai yang dalam dan curam.

Usiaku sudah 27 tahun tak terasa, semalam Bapak mengatakan jika usiaku itu sudah cukup matang untuk membangun sebuah keluarga. Melahirkan dan merawat
anak-anak. Aku diam, tak ada komentar yang pantas aku lontarkan. Bapak begitu berwibawa, aku tak sanggup mengatakan sepatah katapun apa lagi menatap matanya,
bahkan juga tak sanggup menolak saat ia mengatakan rencana perjodohan. Seseorang bernama Bagus, dengan latar belakang dan masa depan yang baik.
“Gadis cerdas tidak akan menolaknya, dan tidak ada yang perlu Bapak cemaskan,” kata-kata Bapak itu begitu keras menghantam jantungku, hingga debarnya semakin tak menentu. Tak ada tawar menawar.

Di sepanjang malam itu aku tak merasakan apapun, bahkan dingin yang menusuk. Aku melangkahkan kaki, begitu bimbang tak menentu arah. Banyak wajah kujumpai, tak
satu pun dengan ekspresi, langit gelap, tak kulihat satu bintang pun dari ribuan yang ada, aku berhenti pada tikungan jalan yang sepi.
Bu, malam ini, Shira bermalam di luar, Ibu tak perlu cemas. Begitu pesan yang aku kirimkan pada Ibu, dan dengan seluruh keyakinan ia tidak akan mencurigaiku.

Tiba-tiba aku ingin menjumpaimu, menjumpai kekasihku yang setia dengan cinta dan harapannya, lantas aku membalikkan langkah sementara hujan mulai turun. Aku
terus berlari menapaki sisa malamku yang keruh dan rindu.

Di pintunya aku mengetuk begitu hati-hati, seolah aku tak ingin seorang pun mendengar kehadiranku selain kekasihku. Wajahnya muncul, seperti yang lalu-lalu,
teduh senyumnya mendekapku.

“ Zul, Bapak akan menikahkan aku dengan seseorang, seseorang dengan harapan dan masa depan yang baik,” perlahan aku menuturkannya. Di antara deras hujan dan
angin yang menghempaskan reranting. Aku tak berani menatap matanya, seperti yang selalu aku lakukan saat berbicara, namun aku tak mendengar apapun, hanya deru
nafasnya yang masih diburu.

“Zul, tidakkah engkau ingin melakukan apapun, saat kekasih yang engkau cintai dan begitu menjaga cintamu akan dinikahkan dengan laki-laki yang berbeda? Tidakkah engkau memegang kuat tangannya dan membawanya pergi sejauh-jauhnya menuju kebahagiaan yang sering kali dibisikkan saat mencumbu?”

Digenggamnya tanganku, matanya yang tajam begitu tenang seolah menentramkan jiwaku yang begitu letih.

“Shira, rebahkan seluruh kecemasan, letih dan kegalauamu itu pada takdir yang akan membawamu. Kau takkan sanggup untuk terus memikulnya, itu seolah olah terlalu dipaksakan. Saat ini aku ingin sekali menangis dan menyalahkan Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan selama ini? perjuangan macam apa? Ha…ha… tapi aku yakin, Tuhan pasti hanya akan mengejek dan menertawakanku. Aku telah memikirkannya Sayang, memikirkan segala hal yang mungkin. Shira, Bapakmu benar, ia telah tawarkan matahari dalam genggamannya, selayaknya engkau bahagia dengan keutuhanmu sebagai bakti seorang anak. Melangkahlah dan tak perlu lagi menoleh. Kupikir kenangan ini akan pulang ke dalam albumnya sendiri dan menjadi hal yang tak begitu penting saat engkau melewati kehidupanmu yang berbeda.” Suaranya kudengar menjadi gemuruh dalam deras hujan
dan malam yang pekat, tangannya semakin erat menggenggam, sementara jiwaku luruh menjadi serpihan-serpihan kecemasan yang panjang dan menusuk.

Aku tinggalkan kekasih hati, belahan jiwaku yang teduh. Menyeberangi malam dan derasnya hujan yang jadi begitu murung. Air mata yang tak henti menetes. Aku
tak tahu kemana arah harus melangkah, betul-betul aku merasakan kehilangan, bukan hanya pada keperawanan yang telah aku persembahkan, bahkan bayanganku
sendiri, aku tak lagi mampu temukan.

Bangkalan 2005-2006

Sumber: http://www.kolomkita.com/2008/12/30/akhir-dari-perjuangan/
















Aku dan Sebotol Bir

Oleh: Ngarto Februana

Kunyalakan sebatang rokok….
Aku cinta padamu.
Keteguk sebotol bir,
bir yang menguap dalam maknanya sendiri
yang menyatu dengan deburan darah dan ludah
menembus dinding kesadaran diri
aku terlelap
aku lupa padamu
lupa terhadap pengkhianatanmu.

Layang-layang terbang tanpa kendali
tanpa tali
tali yang dulu diyakininya
akan mengendalikan ke batas kewajaran
Kini,
limbung, terhempas badai kemunafikan
terdampar ke pelabuhan nista
yang kontras dengan suara hatinya
seiring dengan nafsu setannya.

Berlari-berlari dan berlari
menuju alam pelampiasan diri
membelakangi segala tuntutan hidup.
Aku dan sebotol bir….
Satu rasa,
rasa pahit,
rasa getir.

Batu, November 1985

http://www.geocities.com/ngartofebruana/puisi.htm






Syair Seorang Pemabuk

20 Mei 2009

Sebuah syair indah persembahan sahabatku… saudaraku… saudara sejatiku… “Sang Misterius”… namanya tidak ingin di kenal… ingin tetap Misterius… dan berjalan dalam dekapan Sang Maha Pencintaaa… sebuah perjalanan spiritual yang ruaaaar biasaaa… semoga bermanfaat bagi kita semua yang disini… terima kasih untukmu saudara sejatiku….

SYAIR seorang Pemabuk…

Jangan katakan aku patah hati
Karena wanita cantik dan rupawan
Sungguh engkau salah menilai
Terdinding oleh cadar Indah gemerlapan

Kalau ingin mengetahui
Aku mabuk karena khmer
Yang berisi air kenikmatan
Di ambil dari lautan ma’rifat

Terbang bebas tak ada hambatan
Merdeka tak ada ikatan apapun
Hati senang karena kemabukan
Tak ada pikiran yang menyesatkan

Aku keranjingan karena Cinta
Mabuk kepayang tak tergambarkan
Melihat dia yang menawan
Tak sadar akan ucapan dan kata

Diri hilang entah kemana
Tak ingat siapa-siapa lagi
Berkata sembarang kata
Sudah gila barang kali ya???

haaa… haaa… haaaa….
Tertawaku bebas dan lepas
Jangan katakan aku sedang stress
Aku hanya gila.. ya gila karena cinta

Kemabukan telah merengut KESADARAN
Tubuh hilang di dalam sempoyongan
Miring kekiri dan miring kekanan
Traaa… laalaa…laalaa…la…laa

Jangan katakan aku gila kerena dunia
Gilaku karena “DIA”… yayaya… “DIA”
Yang mencipta ini semua
Termasuk kemabukkan ku jua

Aku mabuk bukan karena wanita
Yang menjadi perhiasan dunia
Penipu dan perampok itu semua
Dapat mengotori iman takwa kita

Sambung menyambung menjadi satu
Pandang banyak pada yang satu
Bukan buaya bukan biawak
Pandang satu ada pada yang banyak

Mengertikah engkau perkataan ku
Kalau mengerti diamlah
Tak mengerti simpanlah
Dalam rahasia segala rahasia

aku adalah aku
Mabuk adalah hobyku
Tenang tentram tujuanku
Lepas bebas terbang pulang

Kicau burung sangat merdu
Angin sepoy-sepoy membuat terlena
Kalau ingin mengenal Tuhannya
Menyelamlah ke dalam sukma

Mencari mutiara amatlah susah
Harus menyelam kedasar lautan
Jangan engkau membusungkan dada
Mutiara hilang Tuhan pun luput

Ibarat Yudistira dan jimat kalimosodo
Jimat di pakai menjadi Raja
Tak terkalahkan di jagat Raya
Jimat hilang kedudukan sirna

Salam Sayang

Salam Hormat

Salam Taklim

Salam Sejati *sampai mati*

Sumber:

http://kangboed.wordpress.com/2009/05/20/syair-seorang-pemabuk/






Pulang Jalan Kaki, Telanjang Tanpa Mimpi

July 14, 2005

Demi mengirit energi, dia suka pulang kerja berjalan kaki,
penjaranya eh rumahnya tak jauh dari tempat kotor eh kantor.

"Paling-paling dini hari kita sudah sampai," katanya kepada
lelah yang selalu numpang di punggungnya yang lunglai.

Bosan juga suka ikut-ikutan di matanya yang kusut masai.

Dalam perjalanan pulang dia suka digoda ojek, angkot,
bis dan kereta listrik. "Awas! Di depan ada jalan becek!"
kata ojek berteriak mengejek.

(Kantor jauh lebih lecek, penuh persekongkolan licik...)

"Hati-hati, ada begundal kampret mengintai kau punya dompet!"
kata angkot yang sudah pengalaman kerjasama dengan pencopet.

("Di kantor juga banyak rekan sejawat yang sejatinya tukang serobot.")

Kalau kepergok bis, dia suka kaget karena sengaja dipepet-pepet.
"Selamat berhemat, Pegawai Kere. Semoga lekas kaya sejahtera!


Tapi, tak ada yang lebih damai daripada rumah yang permai.
Letih ditanggalkannya di pintu. Lelah ditumpuknya di jendela.

Lampu yang remang dinyalakannya. Satu-satunya lampu di hati.
Lalu dia pun terkapar nyaman sekali. Telanjang tanpa mimpi.

Sumber: http://sejuta-puisi.blogspot.com/2005/07/pulang-jalan-kaki-telanjang-tanpa.html






Perawan Kolong Langit

perawan kolong langit

berjingkat sepatu hak jinjit
tank-top wuiii menyuguh gairah
blue-jeans siluetkan kebebasan
melintas dari dengung ke dengung
degup ke degup
malam ke malam

masihkah kau simpan pesan ibu?

dd : madiun, sept08

Sumber: http://www.kemudian.com/darkskie_thedestiny/puisi/kehidupan/57_perawan_kolong_langit







Puisi Seorang Pelacur


Seperti apakah wajah kekasih?

Seperti langit yang biru dihiasi awan putih?

Seperti laut yang tenang nampak menggemaskan namun mematikan?

Betapa malam telah berganti dan tahun bertambah

Telah kusesapi berjuta-juta cangkir kopi dengan pekatnya yang mengundang

Juga kutelisih pada desah-desah gendang besar diantara musik-musik dangdut

Pada Irama campur sari hingga musik dakwah Oma Irama

Atau di lembah Baliem, hingga Lembah Ngarai

Diantara jasad-jasad Tsunami

Atau sampah-sampah scala Richter

Namun tetap saja aku merasa sepi

Seperti sebuah seruling bernyanyi sendiri tanpa domba-domba

Seperti apakah wajah kekasih?

Lagi kau kumandangkan tanya itu

Kita saling bersitatap pada selembar cermin

Bukankah kita sepasang kekasih?

Kau tersenyum dan berkata.....bukan!

Kita adalah sepasang pelaku ekonomi.

Surabaya, 11 Feb 2008

Sumber: http://wina108.multiply.com/journal/item/59/Puisi_Seorang_Pelacur






Seorang Pelacur dan Supir Taksi

Apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta.
(“Sebuah Tanya”, Karya Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Selasa ,1 April 1969)

KEHIDUPAN berjalan seperti puisi. Saya senantiasa berpendapat demikian—meski saya bukan seorang penyair tapi tak lebih hanya penikmat puisi—karena saya melewatkan hari demi hari kehidupan dengan beragam nuansa : terkadang sangat melodramatis, romantis, sentimentil, bahkan lucu. Seperti Puisi.

Saya telah banyak menemui kejadian yang menegaskan fenomena itu. Kemarin, saya mengembalikan dompet seorang ibu yang ketinggalan di taksi saya. Sesungguhnya, saya tidak mengharapkan keuntungan apa-apa dari situ, sebab saya tahu, kejujuran dan kepolosan sudah menjadi bagian integral dari jiwa , tubuh dan segenap aktifitas keseharian saya. Kalaupun kemudian, ia dengan ekspresi wajah lega dan ucapan terimakasih tak terhingga, lalu memberikan uang sebagai penghargaan atas”jasa” saya, dan kemudian dengan halus saya menolaknya, itu semata-mata karena apa yang telah saya lakukan sudah menjadi tugas saya, komitmen saya untuk menjunjung tinggi “harkat ke-supir taksi-an” saya. Tak lebih. Lantas, dua minggu lalu, saya menolong seorang korban kecelakaan lalulintas di depan kampus sebuah perguruan tinggi. Saya segera membawanya ke unit gawat darurat Rumah Sakit terdekat, dengan tidak memperhitungkan lagi berapa tarif taksi yang saya dapat peroleh andai saya tetap mengabaikan kejadian itu.

Semua terasa seperti tindakan”bawah sadar” yang telah terbentuk sedemikian rupa selama bertahun-tahun, sejak ayah almarhum menanamkan nilai-nilai kependekaran pesilat kampung dan kearifan petani penggarap. Kejadian-kejadian tadi seperti mengguratkan puisi-puisi indah dalam hidup saya.

* * *

KINI saya kembali menjalani rutinitas saya. Bukan rutinitas yang lazim memang, karena setiap petang tiba, saya menjemput Susan—seorang wanita panggilan “kelas kakap”—yang tinggal disebuah rumah mewah di sebuah kompleks pemukiman real estate, untuk kemudian membawanya kesuatu tempat, dimana saja, yang telah disepakati sebelumnya oleh pelanggan setia saya itu. Ia sudah menyewa taksi saya selama 6 bulan. Jadi pada jam-jam tertentu—biasanya petang hari—saya menjemputnya di rumah, membawanya ke suatu tempat yang senantiasa berbeda-beda, lantas mengantarnya kembali pulang setelah “bisnis”nya usai pada jam-jam tertentu pula.

Susan membayar cukup mahal untuk tugas tersebut. Dan saya menerima itu sebagai bagian tak terpisahkan dari harkat “kesupir taksi-an” saya. Saya tidak menganggap itu sebagai kerja yang hina lantaran menerima bayaran dari hasil desah dan keringat maksiat Susan. Ini bagian dari tugas, demikian saya mencari alasan pembenarannya.. Persetan dengan semua anggapan sinis tentang saya. Bagi saya, saya tetap memiliki hak untuk menentukan sikap dan melakukan apa yang terbaik untuk saya. Prinsip sederhana tapi logis.

Sudah empat bulan saya melakukan”tugas rutin” ini. Saya sudah berusaha menghilangkan beban psikologis apapun termasuk perasaan cinta. Saya memang tidak dapat mengingkari kata hati bahwa Susan memang cantik dan saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan rambut sebahu, wajah oval proporsional, hidung bangir, kulit putih dan postur tubuh ramping semampai, Susan tampil mempesona mata setiap pria yang melihatnya. Termasuk saya. Sebagai lelaki bujangan dan normal, saya tidak dapat menepis getar-getar aneh saat wangi parfumnya yang khas menyerbu hidung ketika ia masuk ke taksi saya. Tapi saya berusaha menekan perasaan itu sekuat-kuatnya. Terlebih, ketika muncul rasa cemburu, saat ia digandeng om-om kaya yang lebih pantas menjadi ayahnya. Saya seyogyanya harus menempatkan diri pada posisi yang benar : ia adalah pelanggan dan saya hanya supir taksi. Saya mematuhi “rambu-rambu” itu secara konsisten.

Percakapan kamipun, baik ketika pergi maupun pulang, biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bahkan nyaris bersifat rutin. Saya berusaha menjaga jarak dengan Susan agar tidak terlibat lebih jauh ke masalah yang sifatnya terlalu pribadi. Namun belakangan ini sudah ada sedikit”peningkatan kualitas pembicaraan”. Tidak hanya sekedar, “Mau kemana ?” atau “Jam berapa mau dijemput ?”, dan sebagainya. Susan mulai menanyakan latar belakang pribadi saya hingga menanyakan ada berapa jumlah penumpang di taksi saya untuk hari ini. Saya gembira pada perkembangan menarik ini. Mulanya saya agak rikuh tapi perlahan saya mulai dapat menyesuaikan diri dan menjadi pembicara ataupun pendengar yang baik.

Hubungan emosional kamipun berlangsung hangat. Susan pun tak canggung-canggung mengungkap riwayat hidupnya pada saya. Ia ternyata produk keluarga broken home. Ketika ayah dan ibunya bercerai, ia minggat. Ia tidak tahan dan prihatin dengan kondisi seperti itu. Iapun tidak peduli pada siapapun, termasuk kakak maupun adiknya. Saya harus terus hidup dan berjuang, kata Susan menetapkan hati.Tanpa disadarinya, ia terjerumus ke lembah nista. Kehidupan malam dan hingar bingar pesta, sepertinya memberikan keleluasaan baru dan ia bagai memperoleh jati diri disana. Susan akhirnya jadi primadona di sebuah Diskotek ternama yang tak lain sebagai kedok ajang prostitusi kelas atas. Nama Susan melambung tinggi sejak itu. Hampir semua lelaki yang mampir di diskotek itu siap melakukan apapun asal Susan mau berkencan dengan mereka. Pada akhirnya, Susan kemudian menjadi “istri peliharaan” seorang direktur di kota ini,dengan tip dan bayaran yang sangat besar plus rumah mewah komplit segala isinya. . Sang Direktur hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja untuk menemui Susan. Meskipun begitu, profesinya tak juga ditinggalkan. Ia menjadi wanita panggilan untuk “kalangan elit”.

“Saya menyukai pekerjaan ini”, katanya suatu ketika. Suaranya terdengar serak, terkesan dipaksakan. Saya melirik melalui kaca spion, ia duduk santai dibelakang, menyelonjorkan kaki dan menyalakan rokok.. Saya tersenyum dan kembali mengalihkan pandangan ke depan. Ia tak menjelaskan lebih jauh pernyataan yag telah dikeluarkan. Hanya kepalanya terangguk-angguk pelan menikmati lagu melankolis “When A Man Loves A Woman”nya Michael Bolton yang mengalun dari tape recorder taksi saya..

“Hey , Hamzah. Kamu sudah punya pacar belum ?” tanyanya tiba-tiba. Saya gelagapan dan agak kehilangan konsentrasi mengemudi.

“Belum”, saya menjawab tersipu. Sebuah jawaban yang jujur. Saya akui, saya bukan type lelaki yang dapat dengan mudah membina hubungan cinta dengan wanita. Saya memiliki selera perfeksionis, tapi tak pernah punya cukup keberanian untuk menerapkannya lebih jauh.

Susan terkekeh. Ia menghirup rokoknya dalam-dalam. Rimbun asapnya mengepul-ngepul, memenuhi kabin taksi. Saya menelan ludah.

“Kalau Susan sendiri bagaimana ?”, saya balik bertanya.

“Kamu tahu sendiri kan’ ?. Banyak. Banyak sekali,” sahut Susan. Suaranya terdengar hambar. Kedengarannya ia seperti melontarkan sebuah lelucon. Atau apologi ?. Saya tak tahu.

“Banyak memang. Tapi hampa”, saya menanggapi dengan getir.

Untuk beberapa saat Susan terdiam. Ia mematikan rokoknya, lalu merenung. Lama. Hanya deru mesin mobil dan getar alat air conditioner (AC) taksi terdengar. Lalu lintas di larut malam itu memang telah sepi. Sebagian lampu jalan telah dipadamkan. Saya tiba-tiba menyadari kecerobohan dan kelancangan saya.

“Maafkan saya, Susan. Saya....”

“Tidak apa-apa, Hamzah. Kamu benar. Mereka hampa. Cuma punya tubuh dan nafsu. Bukan jiwa dan cinta,” tutur Susan lirih. Saya menghela nafas panjang. Dada saya terasa sesak.

“Hidup menawarkan banyak pilihan, Susan”

“Tapi saya tak punya pilihan !”, sangkal Susan. Nada suaranya meninggi. Saya berusaha menenangkan diri.

“Kearifan menyikapi dengan landasan moral, itu kunci untuk memilih. Kita memang tak akan pernah tahu apakah pilihan hidup kita sudah tepat. Tapi setidaknya, kita mesti punya pegangan yang kokoh untuk menentukan kemana kita mesti melangkah ,” saya berkata lembut. Terdengar nafas berat Susan dibelakang. Suasana terkesan kering dan kaku.

Kami tak bercakap-cakap lagi hingga saya mengantarnya ke gerbang depan rumahnya. Ia hanya mengucapkan “Selamat malam. Sampai jumpa besok sore”. Saya pulang ke rumah dengan rasa bersalah yang bertumpuk.

Sekarang, saya kembali menjemputnya seperti biasa pada waktu dan tempat yang sama. Kekakuan komunikasi akibat “insiden” tempo hari telah lenyap. Sayapun berusaha untuk lebih hati-hati. menjaga perasaannya.

“Apa kamu tidak bosan dengan rutinitas seperti ini, Susan ?”, saya membuka percakapan, pada hari terakhir kontrak sewa saya dengan Susan.

“Apa kamu punya ide yang baik ?”, ia balas bertanya.

“Yaa..misalnya menempuh rutinitas yang baru. Kawin dengan lelaki yang mampu memberi nafkah cukup lahir batin—tidak sekedar limpahan materi yang semu belaka, hidup bahagia, punya anak dan menikmati kehidupan”, saya mengucapkan kalimat tersebut sesantai mungkin. Tanpa beban. Saya ingin mendengar pendapatnya mengenai hal ini.
Sejenak Susan terdiam. Saya kembali melirik kebelakang lewat kaca spion mobil. Susan terlihat sangat cantik. Parasnya yang memukau seperti bercahaya. Ia melepas pandang ke luar melalui kaca jendela taksi yang buram. Seperti memikirkan sesuatu.

“Itu angan-angan yang terlalu ideal, Hamzah” jawabnya, akhirnya.

“Jangan melihat ini sebagai sesuatu yang naif, Susan. Saya rasa pendapat saya cukup realistis. Tidak mengada-ada. Setiap orang, baik lelaki maupun wanita, pasti pernah berfikir mengenai hal itu : Kebahagiaan hidup berkeluarga. Semuanya akan kembali pada prinsip dan keinginan orang yang bersangkutan, sepanjang ia sadar dan yakin hal itu bakal memberikan ketentraman bagi jiwanya, hatinya dan segenap aktifitas kesehariannya”, saya mencoba melontarkan argumen.

“Kita punya takaran penilaian yang berbeda, Hamzah. Tak akan bisa bertemu. Jangan terlalu banyak bermimpi. Kita hidup berada dalam kemungkinan-kemungkinan. Apa yang bakal terjadi kemudian, kita tak bisa menebak. Dan itu sering tidak persis sama seperti yang kita bayangkan,”ujar Susan lirih dengan bibir bergetar. Saya menarik nafas. Putus asa.

“Apakah Susan menganggap bahwa lakon hidup yang Susan lakukan selama ini sama persis seperti yang Susan bayangkan sebelumnya ?”

“Memang tidak sama, Hamzah. Bahkan sangat jauh berbeda. Saya tidak pernah mengimpikan menjalani kehidupan seperti ini. Tapi, bukankah ini bagian dari kemungkinan-kemungkinan hidup ?. Tidak berarti saya mengatakan bahwa saya menolak kehidupan berkeluarga. Saya bukan orang yang munafik, Hamzah. Saya tetap mendambakan seorang suami yang dapat menyayangi dan memanjakan saya serta anak sebagai tambatan hati. Namun, kalau saya telah menemukan ketenangan pada profesi yang saya lakoni saat ini , bagi saya bukanlah suatu pilihan yang keliru. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk memaknai hidupnya”.

“Apa Susan merasa bahagia dengan memaknai hidup dengan jalan ini ?”

“Saya tak bisa menjawabnya, Hamzah. Kamu tidak akan pernah tahu ukuran dan nilai kebahagiaan bagi saya seperti apa. Begitu pula sebaliknya. Kita punya “nilai rasa” yang berbeda dalam menakar kebahagiaan”, Susan bertutur pelan dengan tidak mengalihkan pandangan kearah luar taksi.

Saya terdiam. Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Saya sadar, Susan cukup konsisten memegang prinsipnya.

Mendadak, kesedihan merambah dalam hati saya. Hari ini adalah hari terakhir saya bersama Susan. Besok, Susan akan berangkat berlibur ke Singapura dan Australia mendampingi sang Direktur selama sebulan. Saya tidak tahu apakah Susan akan menyewa “jasa” saya lagi kelak. Bagi saya itu tidak penting. Kebersamaan dengan Susan selama ini, tanpa sadar membangkitkan rasa cinta dan keinginan melindungi dalam hati saya. Saya merindukan dia. Melalui kaca spion mobil, saya melirik Susan. Ia begitu cantik, sangat cantik., saya membatin sekaligus nelangsa.
Kami telah sampai ke tujuan. Saya segera mematikan mesin mobil dan mengumpulkan segenap keberanian yang ada. Susan baru saja hendak membuka handle pintu belakang ketika saya berseru.

“Susan, tunggu !”

Ia mengurungkan niatnya dan memandang saya. Matanya bertanya. Dada saya berdegup kencang.

“Saya mencintai kamu, Susan,” saya mengungkapkannya dengan tenggorokan tercekat. Susan menatap tak percaya. Saya segera meraih tangannya. Meraba jemarinya yang halus. Mengalirkan keyakinan.

“Hentikan semua ini, Susan. Kamu seharusnya hidup lebih layak, terhormat dan bernilai. Apa yang kamu lakuan selama ini hanya akan membuat hidupmu didera kesalahan dan dosa. Hiduplah dengan saya. Kita kawin. Saya berjanji akan membahagiakan kamu”.

Susan menggigit bibir. Ia tampaknya memikirkan sesuatu. Saya merasa cemas. Saya sudah menabah-nabahkan hati untuk siap menerima kemungkinan terburuk. Saya memandang Susan dengan tajam. Penuh harap.

Susan tersenyum. Ia mempererat genggaman tangan saya. Tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu. Sangat misterius.

“Saya memang harus menentukan pilihan, pada akhirnya. Tapi kita hidup dalam dunia yang berbeda, Hamzah. Kamu tak akan bisa memahami saya, seperti sayapun tak bisa memahami kamu. Terimakasih atas ketulusan tawaranmu. Saya menghargainya . Biarkan saya memilih dan melewati jalan yang menurut saya terbaik. Ma’afkan saya. Selamat tinggal”, Susan mengucapkannya dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya basah. Disekanya cepat-cepat, lalu membuka handle pintu tergesa-gesa dan pergi. Saya tak bisa mencegahnya lagi. Saya hanya sempat memandangi punggungnya serta gaunnya yang berkibar ditiup angin senja, untuk terakhir kali, dengan pandangan kosong. Terasa ada yang hilang dalam diri saya, sesuatu yang tak dapat saya ungkapkan bagaimana adanya. Yang pasti, saya seperti telah mencipta “Puisi” baru dalam lakon hidup saya. Samar-samar saya mengingat sebait syair bagus :


Lihatlah gadis yang berjalan sendiri di pinggir sungai
Lihatlah rambutnya yang panjang
dan gaunnya yang kuning bernyanyi bersama angin
Cerah matanya seperti matahari
seperti pohon-pohon trembesi
Wahai, cobalah tebak kemana langkahnya pergi
(“Gadis dan Sungai”, karya Emha Ainun Nadjib dari buku “Sesobek Buku Harian Indonesia)

Dimuat di Harian Fajar-Makassar, 22 Mei 1994

Sumber: http://www.amriltgobel.net/2004/10/seorang-pelacur-dan-supir-taksi.html






Langit di atas perempuan telanjang berdiri di tepi jalan
meneteskan embun sisa sublim malam
pucat dingin terendam balok balok es bongkahan hati
selemparan batu ia hasrat berlari
hindari jerit jeruji penjara di jantungnya

acak terurai rambut ikalnya lepas menusuk nusuk
mimpi buruk tak terusai meretas bilur bilur naluri
melolong lolong meliuk liuk dan manik mata menitik air
:aduhai kemana titik ujung sejuk MU?

ditatihnya kaki lepuh lebam bernanah
menyeok terseret menyapu lembaran hitam lorong ingatan
dikoyak-koyak kuku kuku runcing burung bangkai
lihatlah jelas jejak lendir nasibnya
anyir!
perempuan telanjang bersimpuh di tepi jalan
terkulai pasi di mimpi derita tepi jalan

Ketika datang sang lelaki pejalan kaki
direngkuh diwangikan
diperkosa.

Sumber: http://innerpower.wordpress.com/2007/11/24/perempuan-telanjang-berdiri-di-tepi-jalan/






Mengikat Birahi

Terlarut dalam genangan kama
Berselimut aura romantis dan keindahan
Lembut buah bibirmu menyapaku mesra lewat cumbuan

Aku makin hanyut saat ragamu yang berlekuk indah
Tanpa sehelai kain terkemas dan pipi yang merona
Merebah bak kesuma mekar tanpa kelopak
Menebarkan aroma menggoda
Mengusik nafsu yang terkurung moral

Gelagat manja dirimu menyudikanku
Mencicipi ranum tubuhmu
Mendekapmu, lalu menanam benih

Birahiku bersekongkol dengan pintamu
Namun nuraniku membangkangnya
Tak tersangkali gemulaimu menggelitik hasratku
Namun bukan demikian cinta ini harus mengalir

Benih ini harus tumbuh elok dan terpuji
Disemai saat musim yang tepat
Ditanam dengan cara yang benar
Dituai dengan kebahagiaan

Kelak,
Bunganya akan seindah dirimu
Menebar aroma wangi ke segala penjuru

Sumber: http://pramohana.wordpress.com/2007/02/13/mengikat-birahi/





















Sajak Mashuri

DI BALIK TUBUH INI


di balik tubuh ini, tak ada makna
kecuali sunyi yang dilantakkan ke ladang tua
ketiaka sungai-sungai mengering, lumpur kepulkan debu
di jalanan, batu-batu
dan rumput tak bergoyang untuk satu waktu
: kubur

kejelitaan terlalu rumpang tuk diabadikan di kanvas
langit
bak buih; sesaat setelah awan gemawan sesat
di cakrawala
dalam gerimis terbata; bibir bergetar tuk satu kata
: maut

tapi kenapa maut
siapa terluka dan berkumur darah
siapa mengapung di permukaan air mata
dan tak pernah bersua dengan suara-suara
kerna gema telah hilang dan yang tertinggal
cuma teras dangkal
siapa menjamu dunia di perjamuan; saat mabuk suntuk
dalam kecamuk, amuk
Ajal

ah, tak ada bulu yang bisa dijadikan hulu
ledak
dari tubuh; serupa kesementaraan yang berlabuh
di selangkang
disepuh tarian; bergoyang, bergoyang, bergoyang

dan makna memberat ke muara
kerna persetubuhan bisa dicemarkan dari mata
tangan, kaki dan mungkin saja telinga

pejamkan, tulikan, dan rasakan
: ada yang bangkit dari tubuh, saat tubuh
rubuh

Surabaya, 2005

Sumber: http://mashurii.blogspot.com/search?updated-max=2008-09-23T20%3A12%3A00-07%3A00&max-results=7